Adab dan Etika Memburu Ilmu
Kesalahan dari seseorang yang paling pintar merupakan kesalahan paling buruk
Islam telah mengatur interaksi antara murid dan guru. Etika antara seorang yang pernah mereguk ilmu dari guru atau ustadznya. Dalam sebuah syair disebutkan “Barangsiapa yang mengajariku satu huruf, nisacaya aku telah menjadi hambanya”. Didalam sebuah Hadist disebutkan :
“Bukankah termasuk dalam ummatku orang yang tidak menghormati golongan yag lebih tua dan mengasihi yang muda serta mengetahui (hak-hak) orang-orang alim ”(Ahmad)
Dalam QS.Al-kahfi ayat 62 disebutkan :
"Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".
Didalam Al Qur’an diceritakan rihlah bersejarah antara Nabi yang bergelar Ulil Azmi. Seorang nabi Musa dengan Kitab Taurat menuntut ilmu kepada seorang laki-laki (khidr). Dalam ayat tersebut dijelaskan berbagai hikmah ketika kita sedang menuntut ilmu.
Etika dalam belajar dan menuntut ilmu adalah sebagai berikut :
Pertama, motivasi yang kuat dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Sehingga hal-hal yang pasti merintangi seperti sulit, susah bahkan pedih bia dihadapi. Nabi Musa mengalami cobaan berat ketika rihlah ke daerah Majma al-Bahrain.
Kedua, Bersifat lembut penuh penghargaan terhadap guru sebagai hal mengormati dan menghargai. Sifat ini dicontoh nabi Musa kepada Khidhir as ketika meminta untuk diajari
Dalam QS.Al-kahfi ayat 66
Artinya:
" Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu
Ketiga, Bersikap Sabar terhadap Guru. Ketika Nabi Musa minta diajarkan ilmu. Beliau sudah bersiap-siap untuk sabar dalam mnghadapi Khidhir
Didalam QS Al kahfi ayat 68
Artinya:
Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun". Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".
Keempat, Tidak pernah puas dalam menuntut Ilmu. Luasnya ilmu dan ‘kecilnya’ seorang manusia menuntut manusia untuk selalu belajar dan belajar selama masih hidup walaupun tahu itu tidak akan pernah selesai.
Artinya:
. Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[946], dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."
[946] Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril a.s. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril a.s. selesai membacakannya, agar dapat Nabi Muhammad s.a.w. menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu.
Kelima, Memperbaiki niat. Maksudnya adalah bagaimana belajar dengan niat memohon keridhoan Allah SWT. Sehingga pekerjaan yang kita lakukan tersebut menjadi ibadah dan jihad fisabilillah. Dalam Hadist yang sangat popular :
“Sesungguhnya, sema pekerjaan itu sesuai dengan naitnya dan setiap yang diberikan ganjaran sesuai dengan niat perbuatannya ” (HR. Bukhari)
“Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dilakukan untuk mencari keridhoan Allah SWT, namun ia mempelajari ilmu-ilmu itu untuk memperoleh harta-harta dunia, maka ia tidak akan mencium wewangian surga pada hari kiamat ” (HR Abu Dawud dan Al Hakim)
“Janganlah kamu mempelajari ilmu supaya kamu dapat berbangga dengan sesama orang berilmu dan supaya bertengkar dengan orang-orang bodoh serta supaya menarik perhatian orang ramai kepadamu. Barangsiapa yang berbuat seperti itu, ia berada di neraka” (HR. Ibnu Majah dan Ibunu Hibban)
Sebuah Hikmah yang masyhur yang sering kita angggap sebagai hadist padahal bukan tetapi tetap bermakna mulia adalah “Tuntutlah Ilmu sejak dalam buaian sampai liang lahat”
Jika kita membaca sejarah ulama-ulama salaf, betapa kerasnya mereka belajar sampai-samapai ketika sudah sampai pembaringan (di masa-masa akhir hayat) tetap belajar dengan mendengarkan tafsir, perkara fiqih, ilmu bahasa dari sanak audaranya.
Beliau-beliau seolah merasa tidak tua. Umur dan kedudukan bukanlah alasan untuk malu, rendah diri, serba salah dan berhenti belajar. Laksana manusia yang tidak pernah kenyang layaknya dalam hadist
“Dua orang yang tidak akan merasa kenyang, adalah penuntut ilmu dan pencari dunia” (HR. Al Bazzar)
Na’im bin Hammad, Muhammad bin Ismail ash Shaaigh, Ahmad bin Hambal, Abdullah bin basyar at-Talaqani, Abu Amr ibnul Ula’ berkomitmen hanya kematian yang menghentikan usaha belajar mereka.
“Apakah pantas bagi seorang kakek tua untuk belajar?” Jika kebodohan merupakan kejelekan baginya, maka menuntut ilmu atau belajar akan memperbaiki atau memperindah dirinya.
“Siapakah yang paling perlu belajar?” Orang yang paling pintar dalam masyarakat. Karena, kesalahan dari seseorang yang paling pintar merupakan kesalahan paling buruk ….
Dalam kaitannya ini, al-Zarnuji, menyitir ucapan Sayyidina Ali, “اَنا عبدُ من علمَني حرفًا واحدًا اِن شَاء باعَ وان شَاء اَِعتقَ وان شَاء اِستَرق “ (Saya adalah hamba orang yang pernah mengajarkan satu huruf kepadaku, apabila ia mau boleh menjualku, memerdekakanku, atau tetap memperbudakku). Di bagian lain, al-Zarnuji menuturkan beberapa cara menghormati guru, antara lain;
Pelajar tidak diperkenankan berjalan di depan guru,
Tidak diperkenankan duduk di tempat duduknya,
Tidak boleh mendahului berbicara dengannya,
Tidak boleh menanyakan hal-hal yang gurunya sudah jenuh,
Tidak boleh mengetuk pintunya tetapi mesti menunggu hingga keluar sendiri.
Walhasil, pelajar/santri harus selalu mencari kerelaan hati gurunya (tidak menyakiti hati gurunya) dan mematuhi segala perintah-perintahnya, sepanjang hal itu bukan perbuatan maksiat.
Prinsip-prinsip yang diproyeksikan di dalam kitab inilah yang agaknya menimbulkan persepsi penyerahan total pelajar/santri kepada gurunya. Apalagi bila diingat adanya bayang-bayang, ilmunya tidak akan bermanfaat apabila ia pernah berbeda pendapat (i’tiradl) dengan gurunya atau pernah menyakiti hatinya. Persepsi ini, meski mempunyai nilai positif, namun tak urung menimbulkan efek yang lain, misalnya pelajar/santri karena harus bersikap menerima maka ia cenderung tidak berani bersikap kritis.semua itu dilakukan hanya untuk meminta keikhlasan guru,sehingga ilmu yang didapatkan berguna bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat. Created by: ridho
Tidak ada komentar:
Posting Komentar